Senin, 16 Juni 2014
lapangan tenis (Lorde)
Tidakkah kau berfikir bahwa bahasa yang digunakan orang-orang sekarang ini hampir sama? Membosankan. Mereka memilih berucap santun dan menggunakan kata-kata tingkat tinggi, hanya untuk mencitrakan diri, supaya terkesan sebagai orang pintar. Buat apa? Tak ada manfaatnya jika hanya untuk berucap. Lihat aku. Aku memanipulasi banyak hal dengan kata-kata. Untuk menakuti, untuk menghibur, untuk menenangkan. Aku tak pernah gagal mendapatkan apapun yang kuinginkan dengan senjata kata-kata. Kau tahu kan kalau aku bukan orang bijak yang renta. Aku muda, dan berbahaya. Aku mencintai dunia, aku memiliki duni di genggamanku, namun aku berjanji tak kan pernah diperbudak dunia. Aku adalah manusia, yang punya akal pikiran, yang tak boleh kalah hanya karena keduniaan yang sementara
Pernah dengar ungkapan bahwa dunia ini hanya panggung sandiwara? Yah, begitulah. Beraktinglah seperti badut untuk menghibur orang-orang. Aku akan mencoba untuk menjadi putri cantik yang berurai air mata, seperti di dongeng-dongeng, untuk meraih simpati dan melembutkan hati. Seni terbaru untuk meneymunyikan betapa kita kurang perhatian pada orang lain. Kita inginnya selalu diperhatikan, menjadi tokoh utama. Dengan berpura-pura, kita bisa merengkuh segalanya. Kadang kita tersenyum gembira, dibalik kekalutan, ketakutan dan kesepian. Kenapa tak jujur saja pada dunia? Karena dunia ini bukanlah pertandingan di lapangan tenis, yang bisa ditonton dan dibahas sesukanya.
Dunia ini adalah misteri. Setiap jiwa menyimpan takdirnya sendiri-sendiri. Segera, akan kutinggalkan segalanya. Saat tak ada lagi harapan di dunia. Lihatlah, kotaku terluka. Asap yang jahat memeluk erat. Tak ada lagi peneduh yang rimbun kehijauan. Panas, membara. Tapi setiap jiwa penuh dengan rencana. Rencana untuk semakin membuat kota ini terluka. Tanah yang adem disiram aspal panas di mana-mana. Pepohonan berubah bata yang menjulang. Dan kita, para penghuninya, terjebak dalam permainan yang kita tahu tak akan pernah selesai meski kita tiada. Anak-anak sudah dicekoki masalah orang dewasa. Yagn tua ingin lepas tangan, perpindahan tanggung jawab katanya. Apa ini? Dunia yang memuakkan.
Karenanya, jalan untuk menghadapi segala kekacauan ini adalah berpura-pura. Menjadi manis di depan orang manis, lebih garang menghadapi orang garang. Dengan begitu kita akan bertahan di dunia yang gersang. Tetaplah tersenyum, karena dunia ini tak benar-benar tersenyum padamu. Seperti foto, senyum abadi.
Sudah lelahkah sekarang meski baru separuh jalan? Aku melepaskan diri, menyerah pada segala keruwetan. Dengan sepenuh hatiku, kan kujalani hidupku. Lihat saja dari jendelamu. Matamulah jendelamu. Tempat mengintip segala kejadian di
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar